4 Cara Unik Menjalankan Toko Tradisional

4 Cara Unik Menjalankan Toko Tradisional

Tulisan ini saya buat ketika dalam perjalanan pulang dari kantor. Sepanjang jalan saya menjumpai sekitar 10 toko modern seperti Indomart dan Alfamart.
Mungkin kita semua juga menjumpai hal yang sama.Ya, toko modern dengan konsep waralaba (franchise) ini memang begitu menjamur dan penyebarannya begitu pesat. Dari data yang pernah dirilis di media, pada tahun 2014 jumlah outlet yang dimiliki Indomaret ada 9.096 unit. Sementara Alfamart mempunyai 8.557 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Selama ini 2 toko modern inilah yang lebih dominan di Indonesia. Sebagian dimiliki oleh perusahaan langsung, dan sebagian lagi dikelola dengan sistem waralaba. Dari sisi konsumen, keberadaan toko-toko modern mungkin memberikan banyak pilihan berbelanja dengan beragam produk dan penawaran harga murah. Lalu bagaimana dengan keberadaan toko-toko kecil (traditional store) di sekitar kita? Masih menarikkah menjalankan usaha ini?

1002055_10201203555719553_1280097555_n
Toko Tradisional/Pracangan

Membuka toko tradisional termasuk usaha yang paling mudah dijalankan oleh setiap orang. Tidak membutuhkan modal yang besar sebagaimana kalau harus membeli toko waralaba. Tidak juga membutuhkan lahan yang luas. Cukup dengan sebuah kios kecil dan bisa memanfaatkan area rumah kita sudah bisa memulai berjualan. Itu kenapa di sekitar tempat tinggal kita masih banyak orang atau tetangga yang membuka toko. Pernah ada pemberitaan bahwa menjamurnya toko waralaba mengancam  keberadaan toko-toko kecil (traditional store). Ah, kalau masalah itu biar pemerintah selaku regulator yang memikirkan solusinya. Bagi saya traditional store tetap mempunyai keunikan tersendiri dalam hal pengelolaannya yang bisa membuatnya bertahan dari kepungan toko waralaba. Diantaranya adalah :

  1. Barang Tidak Lengkap

Seringkali barang yang akan kita beli di toko sebelah rumah/kantor tidak tersedia. Ya, pemilik toko tradisional memang tidak menuntut kelengkapan barang dagangannya.  Itu karena modal mereka sangat terbatas, sehingga yang dijual hanya barang-barang yang cepat laku saja dengan jumlah terbatas agar perputaran persediaannya cepat. Ini  yang membuat mereka bisa tetap survive. Beda dengan toko modern yang “dituntut” untuk menyediakan barang lengkap dengan menyimpan stok yang cukup di gudang.

  1. Sensitivitas Harga Rendah

Selisih harga tidak terlalu penting. Pernahkah kita membeli sebotol air mineral dengan selisih harga Rp 500 – Rp 1000 lebih mahal dibanding dengan  di toko modern/ waralaba? Tentu  kita masih bisa memakluminya, dengan pertimbangan lebih cepat, lebih dekat  dan yang kita beli hanya 1-2 item saja. Selama masih dalam batas wajar tentunya. Beda cerita ketika membelinya di Indomart, tenyata harganya lebih mahal daripada di Alfamart atau sebaliknya. Pasti di lain waktu kita akan membelinya di toko yang lebih murah. Sangat sensitif pada perbedaan harga.

3. Layanan Ekstra

Pernahkah kita membeli sebungkus mie instant  sekalian meminta disajikan/dimasakkan oleh pemilik warung? Membeli gas LPG/air mineral galon dan diantar di rumah? Membeli beberapa batang rokok/eceran. Percayalah, Anda tidak akan bisa mendapatkan layanan ini di toko waralaba. Layanan ekstra ini tentunya bisa memberi selisih harga yang lumayan untuk menambah pemasukan.

  1. Bayar Mundur

Ketika anda sudah menjadi pelanggan tetap atau sudah mengenal dekat dengan pemilik toko, anda mungkin akan diberi kepercayaan untuk membayar mundur dengan sistem tagihan mingguan atau bulanan. Kita lebih mengenalnya dengan istilah “ngebon”. Lagi-lagi anda tidak akan bisa mendapatkan fasilitas ini di toko waralaba, sekalipun mempunyai kartu member belanja.

Setiap bisnis pasti akan menemukan marketnya sendiri. Dan keunikan-keunikan tersebut tentunya menjadi strategi marketing yang akan tetap meciptakan pangsa pasar tersendiri dan membedakan usaha toko tradisional dengan toko waralaba. Jadi menurut saya toko tradisional  masih punya potensi bisnis yang bagus. Dalam rangka membantu permodalan, diperlukan peran serta perbankan dan lembaga keuangan lainnya dalam memberikan kredit agar usaha ini bisa terus berkembang.

Salam Share,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s