Politik Balas Budi, Dulu dan Kini

Politik Balas Budi, Dulu dan Kini

Masih ingat dengan politik balas budi di pelajaran sejarah gak? Uups, jangan sampai dilupain ya. Ingat lho, Bung Karno pernah bilang “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Ungkapan ini lebih sering dikenal dengan sebutan Jas Merah. Keren memang Bapak Presiden pertama kita ini. Indonesia harus bangga pernah punya putra bangsa sehebat beliau. Sampai kini memori kepemimpinannya masih membekas dan diteladani. Artikel kali ini topiknya memang beda dengan sebelum-sebelumnya. Gak tau kenapa kok lagi pingin ngomongin politik ya. Padahal saya termasuk awam dan tidak terlalu suka dengan dunia politik.

Di masa perjuangan dulu kita pernah mengenal tokoh bernama Van Deventer. Dia adalah seorang politikus Belanda yang mencetuskan politik balas budi atau disebut juga politik etis di tengah penderitaan rakyat Indonesia ketika penerapan sitem tanam paksa. Politik balas budi ini adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi.

Politik Balas Budi ini secara resmi diterapkan pada 17 September 1901 setelah mendapat persetujuan dari Ratu Belanda, Ratu Wilhelmina.Tiga program utama dari politik balas budi ini adalah :

  1. Irigasi (Pengairan)
  2. Emigrasi (Perpindahan Penduduk)
  3. Edukasi (Pendidikan)

Di awal-awal pelaksanaannya, politik ini langsung mendapat dukungan dari para pribumi karena dianggap lebih berpihak pada kesejahteraan rakyat. Akan tetapi lambat laun mulai banyak pelanggaran yang dilakukan oleh Belanda. Dimana program-program tersebut hanya diujukan untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda sendiri. Sehingga mulai muncul perlawanan atas penerapan politik ini di Indonesia, salah satunya dimotori oleh Ernest Douwes Dekker.

Saat ini politik balas budi sudah bergeser dari sejarah masa lampau. Politik balas budi sekarang konsepnya lebih ke panggung politik kekuasaan. Ini terlihat jelas di birokrasi baik itu dijajaran eksekutif/pemerintahan maupun di legislatif terutama menjelang pemilihan presiden. Seperti kita ketahui, untuk bisa maju menjadi calon Presiden setidaknya membutuhkan “bantuan” dari partai politik lain. Beberapa parpol yang mendapat kursi di DPR akan bergabung dan kemudian membentuk koalisi bersama mendukung salah satu capres.

politik
politik identik dengan kekuasaan

Sudah bukan rahasia umum lagi setelah sang capres berhasil menang dalam pilpres, partai-partai yang tergabung dalam koalisinya akan “menjalankan” politik balas budi. Mereka pada umumnya akan meminta agar kader-kader partainya bisa masuk dalam jajaran pemerintahan maupun jabatan strategis lain seperti menteri, direktur dan komisaris bumn, dan lainnya. Sang presiden pun akan dibuat bingung dengan tekanan politik dalam menyusun kabinetnya. Conflict of interest antara mengakomodir kader-kader partai atau kalangan profesional yang justru lebih dibutuhkan kontribusinya dalam membangun negeri.

Pada akhirnya politik balas budi ini akan terus ada sejalan dengan sistem politik Indonesia. Selama presiden masih merasa membutuhkan dukungan legislatif, akan muncul koalisi-koalisi baru di legislatif. Dukungan tersebut dibutuhkan tidak hanya menjelang pilpres tapi juga pada saat merumuskan undang-undang, merancang RAPBN dan kebijakan-kebijakan lainnya dalam menjalankan pemerintahan.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 9 Desember 2015 hampir sebagian besar warga negara Indonesia berperan serta dalam pilkada 2015 yang dilakukan serentak di lebih dari 250 daerah untuk memilih gubernur,bupati dan walikota daerahnya. Akankah di skup yang lebih kecil ini, aroma politik balas budi juga terasa? Biar waktu yang menjawab….

Salam Share,

Iklan

2 tanggapan untuk “Politik Balas Budi, Dulu dan Kini

    1. Perlawanan yg nyata biasanya ketika terjadi konflik antara eksekutif dan legislatif, kedudukan eksekutif gampang goyah. Dan sbg rakyat kita hanya bs menjadi penonton pertunjukan panggung politik…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s