Tantangan Untuk Menjadi UMKM Hebat Dan Berani Ekspor

Tantangan Untuk Menjadi UMKM Hebat Dan Berani Ekspor

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah workshop yang digagas oleh salah satu tabloid ekonomi Kontan dan Bank BRI. Acara tersebut dihadiri oleh pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (umkm) se-jawa timur. Topik seminarnya adalah “Menjadi UMKM Hebat dan Berani Ekspor”. Sangat menarik dan memberi wawasan bagi para pelaku umkm agar berani ekspor. Para peserta begitu antusias di sesi tanya jawab. Diselingi juga testimoni oleh para pelaku usaha yang sudah berhasil mengekspor produknya ke luar negeri.

umkm ekspor__edit
Pasar Luar Negeri Masih Menjanjikan Bagi Sektor UMKM

Berdasarkan data Kementrian koperasi dan umkm, jumlah umkm di Indonesia saat ini telah mencapai 57,9 juta pelaku usaha. Namun dari jumlah tersebut yang berhasil menembus pasar luar negeri masih sedikit. Sebagian besar masih enggan mencoba pasar ekspor dikarenakan kurangnya informasi dan menganggap posedurnya berbelit, sehingga masih banyak yang masih berkutat di pasar domestik.

Baca juga : Profil Usaha Mikro di Indonesia

Pasar ekspor memang menjanjikan dan memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Pemerintah melalui kementrian terkait berusaha memberikan berbagai kemudahan ekspor bagi para pelaku usaha. Tujuannya tentu saja untuk menumbuhkan iklim usaha dalam negeri, mendorong perekonomian nasional sekaligus mendatangkan devisa negara. Setidaknya ada 4 hal yang perlu diperhatikan pelaku umkm jika ingin melakukan ekspor, diantaranya:

1.Currency

Tidak bisa dipungkiri, mata uang dunia masih dikuasai oleh dollar Amerika dengan kurs yang volatile, khususnya terhadap rupiah. Sementara komponen biaya-biaya ekspor menggunakan standar dollar. Dengan kurs nilai tukar yang tidak stabil seperti saat ini, dibutuhkan perhitungan yang matang agar tidak berpotensi menimbulkan kerugian akibat selisih kurs.

2.Geografis

Faktor geografis bisa menjadi kendala tersendiri dalam perdagangan ekspor. Semakin jauh jarak antar negara berpengaruh pada biaya pengiriman (cargo) yang akan membuat harga produk semakin mahal. Terlebih lagi jika sudah mencakup lintas benua. Karena itu produk yang diekspor haruslah mempunyai keunggulan dibanding produk sejenis.

3.Regulasi

Beberapa negara menerapkan regulasi/peraturan untuk membatasi masuknya barang-barang produksi luar negeri. Tujuannya untuk melindungi industri dalam negerinya agar tetap hidup.Seringkali prosedur yang diberlakukan begitu rumit. Untuk bisa melakukan ekspor, kita harus mampu menyesuaikan dengan regulasi yang berlaku di negara setempat.

4.Demografi

Demografi meliputi jumlah dan komposisi penduduk di suatu negara. Sebagai contoh di Arab Saudi dan negara-negara timur tengah lainnya yang mayoritas penduduknya muslim, untuk produk makanan dan minuman yang akan di ekspor kesana tentunya harus disesuaikan dengan faktor demografi di negara tersebut.

Berbagai hal tersebut tentunya perlu menjadi pertimbangan para pelaku usaha ketika hendak mencoba menembus pasar luar negeri. Dari sisi kualitas, sebenarnya produk-produk yang dihasilkan oleh sektor UMkM tidak kalah dibanding produk luar negeri. Perlu edukasi serta dukungan, baik dari pemerintah maupun asosiasi usaha dan juga perbankan selaku mitra dalam transaksi finansial, agar umkm Indonesia semakin hebat dan bisa menjadi ekspotir-ekspotir baru nantinya.

 

Salam Share,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s