Menjadi Silent Reader di Grup Pertemanan

Menjadi Silent Reader di Grup Pertemanan

Silent Reader – Siang itu, seorang teman terlihat kesal karena tidak ada satupun yang menanggapi postingannya di chat grup pertemanan. Padahal dia merasa itu adalah info penting yang harus segera direspon oleh semuanya.

Dua puluh menit berselang, barulah ada teman-teman lain yang berkomentar di grup, meskipun cuma segelintir saja dari seluruh member grup yang jumlahnya mencapai sekitar 30 orang. Sisanya hanya membaca sambil lalu dan memilih tidak berkomentar apa-apa. Bagaimana denganmu? Apakah kamu termasuk diantaranya?

Ya, masifnya pengguna internet dan pengguna media sosial melahirkan ruang komunikasi massal melalui sebuah grup pertemanan yang bisa melibatkan ratusan bahkan ribuan orang. Di dalam grup tersebut memungkinkan kita untuk saling bertegur sapa, berkomunikasi dan membagi informasi dengan anggota yang lain. Sebuah media informasi yang sangat praktis, karena dengan sekali posting bisa langsung dibaca oleh seluruh anggota. Grup pertemanan ini dibentuk bisa berdasarkan kesamaan profesi, hobi, alumni sekolah, atau atas dasar pertemanan lainnya.

Baca juga : Apa Jadinya Blog Tanpa Social Media?

Dalam satu aplikasi chat seperti Whatsaap, Line, Telegram dan yang lain, tak jarang kita mempunyai lebih dari satu grup pertemanan. Ada yang karena memang keinginan kita sendiri, ada juga yang karena kita di invite teman untuk dimasukkan ke sebuah grup. Di sebuah grup pertemanan ini memang ada satu atau beberapa orang yang bertindak sebagai admin grup yang bisa mengundang atau mengeluarkan member di grup tersebut. Beberapa anggota grup ada yang sangat aktif dan sering berkomentar di grup, dan sebagian yang lain pasif dan hanya menjadi pembaca atau silent reader.

Para silent reader ini sangat jarang atau bahkan tidak pernah berkomentar di grup. Mereka tetap mengikuti setiap obrolan di grup, membaca dengan seksama atau sekilas saja tetapi tidak atau enggan berkomentar sepatah kata pun. Beberapa alasan seperti malas ngetik, tidak paham dengan topik pembicaraan, takut salah komen, dan sebagainya, sering menjadi alasan para silent reader. Namun, menjadi silent reader menanggung beberapa “resiko” tersendiri yang jarang disadari. Apa saja ya, simak 3 hal di bawah ini :

  1. Serasa Jadi Orang Asing
    Karena jarang komentar, lama-lama kamu akan merasa seperti jadi orang asing di grup. Padahal bisa jadi kamu mengenal semua orang di grup namun jadi canggung saat hendak men-share sesuatu atau ikut berkomentar. Akhirnya kamu akan terus-terusan menjadi silent reader. Dan sekalinya komentar mungkin akan menjadi bahan becandaan teman-teman yang lain.
  2. Diabaikan Saat Left Group
    Pernah lihat ada teman yang tiba-tiba left group, dan admin atau yang lain cuma membiarkan begitu saja. Ada atau ketiadaanmu di grup dianggap tidak ada bedanya, sehingga tidak ada satupun yang merasa “kehilangan”. Ini juga termasuk salah satu resiko yang harus ditanggung saat jadi silent reader.
  3. Nomor Handphone Tidak Disimpan
    Di grup pertemanan yang menggunakan user nomor handphone, memudahkan kita untuk menyimpan nomor HP teman di grup. Namun yang sering terjadi, karena kamu tidak pernah berkomentar, maka nama dan nomor handphone-mu jarang muncul di grup. Akibatnya teman-teman yang lain tidak menyadari keberadaanmu di grup apalagi menyimpan nomor handphone mu.

Terkadang obrolan di grup memang terasa gak penting. Dan sah-sah saja memang, karena menyangkut hak seseorang untuk diam atau mau menulis apapun di grup. Jadi, menjadi member aktif atau silent reader di grup pertemanan adalah sebuah pilihan. Namun ada baiknya jika sesekali kita ikut berkomentar untuk menghidupkan suasana di grup pertemanan kita.

Salam Share,

Iklan

4 tanggapan untuk “Menjadi Silent Reader di Grup Pertemanan

  1. Kalau saya tergantung juga, kalau infonya penting atau ada yang perlu dibantu, maka saya merespon secepat dan sebaik mungkin. Namun beda grup memang beda perlakuan, ketika isinya grup yang terlalu banyak bercanda terutama di jam produktif, saya hanya menegoknya sesekali saja, itupun ketika sempat, hehe

    Suka

  2. Menjadi korban su’uzon mas,
    Mungkin bisa menjadi dampak silent reader.
    Mereka acuh dengan obrolan di grup, merasa berisik, merasa obrolan ga penting.
    I think isn’t good ya.
    Sebab lama2 grup bakal hancur.
    Padahal yg membuat grup tujuannya untuk berkomunikasi tapi nyatanya NOL.
    Adminnya juga lelah untuk membalas chat.
    Sangat2 disayangkan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s