Mengapa Tradisi Tukar Uang Baru Menjelang Hari Raya Tetap Ada

Mengapa Tradisi Tukar Uang Baru Menjelang Hari Raya Tetap Ada

Tukar Uang Baru – Seperti biasa menjelang hari raya idul fitri kita disibukkan dengan hiruk pikuk kebutuhan lebaran. Mulai belanja baju baru, kue-kue, parsel, persiapan mudik hingga hidangan lebaran seperti ketupat lengkap dengan opor ayamnya untuk disuguhkan hari lebaran. Semua itu demi merayakan hari kemenangan yang penuh suka cita, idul fitri. Namun ada satu hal lagi yang tak pernah luput dari kesibukan persiapan lebaran, yaitu penukaran uang baru.

Seperti menjadi sebuah tradisi, animo masyarakat untuk menukarkan uang baru tetap tinggi. Uang baru ini biasanya untuk dibagikan kepada sanak famili pada saat silahturahmi di rumah atau kampung halaman. Bisa juga untuk memberi hadiah pada seseorang sebagai ucapan terima kasih, dan sebagainya. Umumnya uang kertas dengan pecahan kecil yang paling banyak diburu. Mulai dari pecahan 2 ribu, 5 ribu, 10 ribu, dan 20 ribu.

Berdasarkan berita yang dikutip dari katadata, tak tanggung-tanggung, lebaran 2018 ini BI menyediakan uang baru hingga Rp 188 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya. Bank Indonesia bekerja sama dengan 15 bank di seluruh Indonesia. Adapun bank tersebut adalah BNI, Bank Mandiri, BRI, Permata Bank, BNI Syariah, Maybank, BRI Syariah, Bank Mega, Bank CIMB Niaga, Bank Mandiri Syariah, BTN, Bank BJB, Bank DKI, dan BCA. Tidak hanya itu, BI juga bekerjasama dengan lembaga non-bank seperti Pegadaian.

Di tengah gencarnya gerakan non tunai yang dicanangkan oleh BI, tradisi tukar uang baru ini menjadi sebuah pengecualian. Semakin mendekati hari lebaran, masyarakat justru berbondong-bondong menarik uang dari rekening tabungannya untuk ditukarkan dengan uang baru. Tentu bisa dibayangkan berapa biaya cetak yang dikeluarkan oleh BI untuk menerbitkan triliunan rupiah uang baru tersebut guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun di sisi lain, ini menjadi momen bagi Bank Indonesia untuk menarik uang lama atau rusak yang beredar di masyarakat.

Kenapa Harus Uang Baru? 

Ini seringkali menjadi pertanyaan umum bagi kita. Masyarakat rela antre dan pindah dari satu bank ke bank lain untuk bisa mendapatkan uang baru. Bahkan jasa perantara atau para calo bertebaran di pinggir jalan menawarkan uang baru berbagai pecahan. Ada faktor tertentu yang melatarbelakangi kebiasaan ini.

Saat mengingat masa kecil dulu, memang ada sebuah kegembiraan tersendiri manakala kita diberikan uang baru oleh orang tua atau saudara kita saat lebaran. Lalu sebagian kita simpan atau tabung karena merasa sayang untuk dibelanjakan seluruhnya. Ya, uang baru diyakini mampu mempengaruhi aspek psikologis si penerimanya.

Meski nominal yang diterima tidak terlalu besar, namun bentuk fisik uang baru seakan memberikan keceriaan dan kesan “cukup” bagi penerimanya. Terlebih di momen lebaran yang identik dengan barang-barang baru. Dan bagi si pemberi, ada kesan prestise tersendiri saat bisa  memberi angpau dengan uang baru.

Baca juga : Cermat Dan Bijak Menggunakan Uang THR

Tradisi bagi-bagi uang baru di hari lebaran ini tampaknya akan tetap ada dan tak lekang oleh jaman, khususnya di Indonesia. Dan ini seperti menjadi sebuah budaya turun temurun yang menambah semarak dalam merayakan lebaran idul fitri. Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s