Faktor Psikologi Yang Harus Dihindari Dalam Trading Saham

Faktor Psikologi Yang Harus Dihindari Dalam Trading Saham

Psychology Trading – Saat ini ketertarikan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal terus meningkat. Sebuah data yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), per maret 2018, jumlah investor pasar modal di Indonesia sudah mencapai 1,2 juta single investor identification (SID). Dunia saham memang menjanjikan keuntungan tanpa batas. Terlebih dengan masifnya edukasi yang dilakukan oleh BEI dan OJK tentang pasar modal dengan tagline “Yuk Nabung Saham” semakin membuka wawasan masyarakat tentang dunia pasar modal, bahwa berinvestasi saham tidaklah sesulit dan semahal yang dibayangkan.

Selain untuk tujuan investasi, saham juga sering digunakan untuk aktivitas trading. Trading saham merupakan aktivitas jual beli saham di bursa untuk mendapatkan keuntungan (profit) dengan timeframe yang relatif pendek. Bisa harian, mingguan, bahkan bulanan. Berbeda dengan investasi yang lebih berorientasi jangka panjang, trading sangat sensitif dengan pergerakan harga dalam jangka pendek. Sehingga para trader kerapkali memonitor portfolio sahamnya secara berkala.

Bagi yang sudah familiar dengan trading saham, pastinya sudah memahami tentang analisa teknikal dan fundamental yang merupakan bekal utama untuk memasuki dunia saham. Selain itu, ada aspek psikologi yang sangat berperan penting dalam aktivitas trading. Seberapa besar profit and loss selain ditentukan oleh akurasi analisa teknikal dan fundamental, juga ditentukan oleh sikap mental trader itu sendiri. Seberapa akurat analisa yang digunakan, jika tidak dimbangi dengan sikap mental yang baik, maka profit yang sudah dihasilkan bisa saja menguap secara perlahan.

img_20170902_2125211145801997.jpg

Dari diagram di atas jelas terlihat bahwa faktor psikologi merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam keberhasilan trading, yaitu sebesar 60%. Disusul oleh risk & money management 30%, dan justru kemampuan analisis hanya berpengaruh sebesar 10%. Harga saham adalah harga yang mencerminkan ekpektasi dari para pelaku pasar. Harga saham bisa naik dan turun drastis seperti layaknya roller coaster. Mekanisme pasar seringkali digerakkan oleh isu-isu yang beredar ataupun kekuatan bandar. Sehingga, tak jarang dijumpai perusahaan yang sedang rugi sekalipun, harga sahamnya masih bisa meroket. Disinilah keputusan membeli atau menjual saham sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis emosi dan kesabaran.

“Be fearful when others greedy, and greedy when others are fearful.”

Takutlah ketika semua orang sedang tamak (keuntungan), dan tamaklah ketika semua orang sedang takut (rugi). Kalimat dari Warren Buffet yang sering disematkan di buku-buku trading saham ini merupakan representasi dari sikap mental atau psikologi dalam dunia trading yaitu Greedy dan Fearful. Secara umum, ada beberapa faktor psikologi yang sebaiknya dihindari dalam trading saham.

  1. Mau Untung Terus

Sifat mental pertama yang sering muncul dalam benak para trader adalah mau untung terus. Wajar dan manusiawi, karena tujuan utama dari trading adalah mendapatkan keuntungan atau cuan yang sebesar-besarnya. Namun kenyataan di dunia saham tidaklah sesempurna itu. Jika di perdagangan barang anda bisa mengontrol sendiri harga jual barang anda agar bisa untung, dalam trading saham harga sangat ditentukan oleh mekanisme pasar dan banyak faktor. Trader juga harus menetapkan target profit pribadi sebelum harga akan bergerak turun kembali. Jika anda ingin untung terus (greedy) di dunia trading, bersiaplah kecewa karena dalam sekejap, market bisa saja mengambilnya kembali.

  1. Takut Rugi

Berikutnya adalah kebalikan dari sikap yang pertama, yaitu takut rugi. Sebagus apapun fundamental sebuah perusahaan, pasti harga sahamnya pernah mengalami penurunan yang sifatnya temporary baik disebabkan oleh kepanikan atau profit taking investor. Ketika harga saham terus menurun, banyak trader yang enggan untuk mengambil posisi beli karena dibayangi ketakutan akan kerugian. Padahal justru itu adalah moment yang bagus untuk mengakumulasi atau membeli saham dan berpotensi mendapatkan keuntungan di masa mendatang. Ingat, greedy when others are fearful. Tentunya dengan melihat aspek fundamental atau teknikal saham tersebut.

  1. Ekspektasi Berlebihan

Kebanyakan orang ingin mencoba dunia saham karena tergiur oleh cerita tentang keuntungan yang didapat. Namun, keuntungan tersebut tidak begitu saja diperoleh tanpa sebuah pemahaman yang baik dalam hal trading. Ekspektasi yang berlebihan justru seringkali malah merugikan. Setiap hari bertebaran rekomendasi dari para ahli untuk membeli atau menjual saham tertentu dengan prediksi harga akan naik/turun sekian persen sehingga mempengaruhi psikologis anda. Sebaiknya cerna dan pelajari dulu setiap informasi yang ada sebelum kita mengambil posisi jual atau beli saham.

Sekali lagi, faktor psikologi memang mejadi kunci keberhasilan dalam trading. Sehingga harus kita terapkan secara disiplin agar mendapatkan profit yang berkesinambungan.

Baca juga : Investasi Alternatif Di Reksadana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s